F. Moses


First Love
Oktober 27, 2009, 11:17 am
Diarsipkan di bawah: Ulasan-ulasan sederhana (cerpen/puisi)

Cerpen oleh Khadijah SMAN 2 Bandarlampung

 

Rara membuka tirai kamarnya dan berharap melihat bulan yang indah di langit. Segaris senyum menghiasi wajahnya. Kemudian dia mengambil hp-nya. Cetak.. cetik..

“Lihat, deh, ke langit. Bulannya indah banget, ya.” Rara segera menekan tombol send. Tak berapa lama ada balasan yang diterima.

Cetik.

“Hah? Bulan? Emang kenapa sama bulan?”

Rara melongok. Ini makhluk terbuat dari apa sih? Bulan itu, kan, lagi bagus-bagusnya! Emang cowok. Gak ngerti sama yang begituan. Rara pun kembali menatap bulan yang akhir-akhir ini jarang muncul. Kenangan-kenangan masa lalu pun terputar kembali di benak Rara.

Hari itu, Rara adu mulut hebat ala anak SD dengan Fikri, rivalnya. Dia tidak ingat jelas apa yang menjadi permasalahan saat itu, maklum saja, sudah enam tahun berlalu sejak peristiwa itu. Tetapi yang dia sangat ingat adalah dia menonjok perut rivalnya itu. Sebenarnya dia merasa bersalah, tapi karena sudah terlanjur pasang wajah seram, dia tidak jadi minta maaf, malah berkata, ”Rasain!” dan pergi begitu saja tanpa memedulikan Fikri yang meringis mengaduh-aduh.

Sejak saat itu ada saja bahan untuk mereka bertengkar, beda pendapat dan tingkah laku yang menyebalkan. Bahkan mereka pernah bertengkar hanya karena tatapan Rara dan Fikri bertemu, meskipun hanya beberapa detik. Pertengkaran mereka pun menjadi sangat terkenal di kelas.

Masih terngiang ucapan teman-temannya saat itu, “Awas, jangan keseringan berantem. Nanti suka loh..” Rara tertawa geli mengingat ekspresinya waktu itu. Dia mengangkat alis dan mengatakan dengan tegas, ”Gak mungkin!!”.

Dia tidak pernah menyangka bahwa perasaannya akan berubah 180 derajat dengan pernyataannya itu. Setelah peristiwa itu, setiap kali dia bertengkar dengan Fikri, selalu saja ada perasaan puas dan dia menjadi lebih bersemangat. Awalnya dia menganggap itu adalah rasa puas karena telah berhasil mengomeli Fikri, tapi lama-kelamaan dia merasa senang jika berada di dekat Fikri, meskipun hanya sebagai rival.

Saat perpisahan tiba, Rara berniat untuk memberitahukan Fikri tentang perasaanya melalui sepucuk surat. Teteapi, entah mengapa dia mengurungkan niatnya dan menyimpan dalam-dalam surat itu ke dalam tas. Hal lain yang membuatnya menyesal bukanlah dirinya yang gagal menyampaikan surat itu, melainkan dia yang tidak mencoba memperbaiki hubungannya dengan Fikri, malahan asyik bermain dengan teman-temannya di dalam kelas yang tak terpakai.

Kesempatan kedua yang diberikan pun juga tidak Rara pakai dengan baik. Dia menghela napas. Kenapa dia menghiraukan perkataan sahabatnya untuk mengacuhkan Fikri? Padahal kesempatan bertemu dia itu kecil, karena mereka bersekolah di SMP yang berbeda. Tapi Rara langsung melupakan kejadian itu dan berpikir bahwa dia masih terlalu dini untuk memikirkan masalah itu, dan akan segera melupakannya. Pasti!!

Rara kini sudah dapat melihat bintang-bintang di sekeliling bulan. Langit tampaknya sedang senang hari ini, batinnya. Memorinya lagi-lagi me-rewind masa lalu. Sebulan setelah pengumuman UN SMP, dia pindah ke luar kota. Tak ada sedikikt pun terlintas di benaknya untuk berpamitan dengan Fikri. Setelah setahun, dia baru menyadari perasaannya terhadap Fikri. Dia mulai mencari-cari Fikri di sebuah situs jejaring sosial, tidak berhasil. Menanyakan pada teman lamanya, tidak mungkin, karena Hp-nya baru saja hilang dan semua kontak temannya pun ikut lenyap.

Akhirnya dia mendapatkan nomor teman lamanya melalui situs jejaring sosial yang lain dan langsung menanyakan nomor Fikri. Yip! Dia berhasil! Rara ingat betapa senangnya dia waktu itu. Sebulan setelah mereka sudah akrab dan tak lagi bertengkar dengan ber-SMS ria, dia pun memberitahukan isi hatinya kepada Fikiri. Tak ada maksud apa pun dalam pernyataan itu, dia hanya takut tidak memiliki kesempatan lagi untuk itu. Namun tak disangka, Fikri pun membalas perasannya.

Kini mereka telah resmi satu bulan,. Kadang Rara berpikir apakah Fikri bisa menjalani pacaran jarak jauh atau tidak. Tapi mereka berdua telah berkomitmen, dan Rara yakin pada Fikri. Dia berharap Fikri akan memegang kata-katanya, karena Rara sangat sayang pada Fikri. Jika punya perasaan pada seseorang sebaiknya diungkapkan selagi bisa, karena saat kesempatan itu hilang kita akan sangat menyesal.

Penguasaan Ruang dari Cerita (Paling) Pendek

F. Moses*)

Apakah itu cerita pendek (cerpen)? Tak perlu saya berpanjang lebar untuk mendefinisikannya. Tiap penulis, baik pemula maupun hebat, tentu punya banyak tafsir. Dan untuk menafsirkannya, kalau boleh saya mengatakan, cerpen merupakan cerita pendek yang secara langsung atau tak “terbubuhi” alur, tokoh, latar, maupun tema dengan segenap tetek bengek ide atau gagasan di dalamnya—dengan tanpa batasan berimajinasi yang akhirnya menjadik karakter dalam bercerita dari tiap-tiap penulis, tentunya. Saya percaya, anda juga mampu menambahkan dari pendapat saya itu. Atau mungkin malah lebih membenarkannya.

Atas cerpen “First Love”, meski dengan ukuran halaman yang masih dirasa kurang cukup untuk dikatakan sebagai sebuah cerpen, saya mencoba memercayai untuk terlepas dari perkara itu—bila itu dihubung-hubungkan dengan persoalan jumlah halaman—dengan mengatakan bahwa itu adalah cerpen, meskipun sedikit. Sebab, yang menjadi catatan tersendiri bagi saya (mungkin bagi pembaca) sebagai pembaca, telah menemukan kesinambungan penceritaan yang cukup “telak“ untuk mengatakan bahwa atas cerpen “First Love“ tersebut, setidaknya, memunyai nilai-nilai estetika penceritaan meski sedikit.

Adapun yang menjadi catatan dari cerpen tersebut dengan adanya kebersahajaan berimajinasi dari si pengarang dalam mengawali sebuah cerita—mengingat awalan sebuah kalimat dalam bercerita tak lain adalah kesempatan si pengarang untuk menarik pembaca supaya tertarik oleh rasa ingin tahu (suspense)— lewat pemanfaatan “ruang“. Sebuah pemanfaatan atas ruang yang semisal dari latar waktu. Hal itu terlihat pada,  Rara membuka tirai kamarnya dan berharap melihat bulan yang indah di langit. Segaris senyum menghiasi wajahnya. Kemudian dia mengambil hp-nya. Cetak.. cetik..yang kemudian berlanjut pada, “Lihat, deh, ke langit. Bulannya indah banget, ya.” Rara segera menekan tombol send. Tak berapa lama ada balasan yang diterima. Cetik. “Hah? Bulan? Emang kenapa sama bulan?”

Dari potongan paragraf di atas, si pengarang sudah mencoba untuk lebih mamaksimalkan latar penceritaannya. Sebuah latar waktu; pendeskripsian keindahan bulan yang paling indah tiada lain selain pada malam hari. Lalu si pengarang, secara tak langsung, juga meliarkan pendeskripsian bulan yang indah di langit. Yang akhirnya mengantarkan si pengarang (lewat tokoh Rara) menuju dialog-dialog singkatnya lewat hp.

Kemudian masalah alur, yang entah disengaja atau tak, si pengarang rupanya mengenal betul akan dibawa ke mana penceritaan tersebut. Rupanya si pengarang membawanya pada suatu ingatan. Dalam hal ini menjadikan si pengarang secara langsung menjadikan alur menjadi sorot balik, yaitu pada  Rara pun kembali menatap bulan yang akhir-akhir ini jarang muncul. Kenangan-kenangan masa lalu pun terputar kembali di benak Rara. Dari penggalan itulah, si pengarang menguak ingatan tokoh Rara dengan tokoh Fikri. Hal tersebut (alur) makin terlihat jelas pada, Hari itu, Rara adu mulut hebat ala anak SD dengan Fikri, rivalnya. Dia tidak ingat jelas apa yang menjadi permasalahan saat itu, maklum saja, sudah enam tahun berlalu sejak peristiwa itu. Yang secara langsung mengabarkan kilas-balik ke enam tahun silam.

Tak hanya alur, permainan majas juga dimainkan oleh si pengarang ke dalam penceritaan. Permainan tersebut terjadi saat adanya lompatan pemeristiwaan yang dihadirkan si pengarang. Lompatan atas pernyataan tokoh Rara yang tak lagi gamang atas perasaannya kepada tokoh Fikri, yaitu pada Rara kini sudah dapat melihat bintang-bintang di sekeliling bulan. Langit tampaknya sedang senang hari ini, batinnya. Memorinya lagi-lagi me-rewind masa lalu. Sebulan setelah pengumuman UN SMP, dia pindah ke luar kota. Tak ada sedikikt pun terlintas di benaknya untuk berpamitan dengan Fikri. Setelah setahun, dia baru menyadari perasaannya terhadap Fikri. Hanya saja, si pengarang kurang mengimajinasikan perasaan-perasaannya yang membatin. Andai saja oleh pengarang diimajinasikan menjadi suatu, tentu akan memberi daya tarik tersendiri. Dan penceritaan akan dirasa lebih bervariasi oleh monolog-monolog dari tokoh Rara.

Demikianlah catatan singkat saya atas cerpen ”First Love”. Meski lumayan cukup pendek, cerpen tersebut menghadirkan kronologi yang lumayan padu. Hanya saja, si pengarang masih sangat terburu-buru dan terlihat tak sabar dalam pemaparan keragaman deskripsi. Hasilnya pun menjadi deskripsi yang masih setengah hati. Akibatnya dialog-dialog pun dirasa menjadi kurang maksimal. Namun demikian, setidaknya, penguasaan ruang—atas pengembangan atas beberapa unsur cerita, seperti alur, tokoh, dan latar—dari cerpen yang lumayan pendek ini telah coba dimaksimalkan oleh si pengarang menjadi kronologi penceritaan yang masih berestetika. Selamat.



Bahasa Indonesia (kan) Saja
Oktober 26, 2009, 6:40 am
Diarsipkan di bawah: Esai/Dalam Esai | Tag:

F. Moses

SUATU ketika, seorang teman berkata, “Kau harus lebih tangar agar tak menyesal di kemudian hari.”

Selain kata tangar, ia juga menyelipkan kata rona, halimun, dan biring ke dalam beberapa kalimatnya. Saya tak ingat betul kalimat-kalimatnya. Bingunglah saya. Mungkin teman saya yang satu ini telah “keracunan” bahasa puisi, pikir saya. Tak lama teman saya yang satu lagi menyergah, “Iya, kata-katanya terlalu arkais.” Nah, semakin bingunglah saya. Apalagi itu arkais.

Dengan jumawa, teman saya menjelaskan, yang intinya demikian: tangar berarti hati-hati, rona berarti wajah, halimun berarti kabut, arkaik berarti kata-kata yang tak begitu dikenal, dan biring berarti kekuning-kuningan. Setelah penjelasan itu, tak lama berselang, teman saya pun pergi. Tinggalah saya sendiri, larut dalam pikiran.

Salahkah teman saya menggunakan kata-kata itu? Atau justru sebaliknya, saya salah karena tak memahami salah satu dari kata-katanya? Untuk melegakan hati, saya pun coba bersepakat dengan diri sendiri, yang penting kata-kata yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Jadi tak soal.

Sesampai di rumah, yang awalnya tak jadi soal, malah jadi persoalan tersendiri buat saya. Apakah kata-kata tersebut baku atau tak? Saya kurang tahu pasti. Apakah kata-kata tersebut asli milik Indonesia? Ya, pikir saya yakin. Apakah lazim? Barangkali inilah persoalannya. Kalau begitu ia seperti tengah berpuisi di hadapan saya. Hmm, selanjutnya saya kembali membuka-buka kamus. KBBI, tentunya. Ternyata benar.

Sifat keaslian memang menghendaki kata-kata yang dipergunakan itu kata-kata dalam bahasa Indonesia sendiri. Kalaupun ada kata-kata asing dari bahasa daerah yang kita pergunakan, seyogianya kata-kata itu telah menjadi bagian dari perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Dan untuk kelaziman, bergantung pada konteks.

Akhirnya, sepatutnya kita harus mempergunakan kata-kata yang hendaknya lazim dipakai. Sebab, yang tak lazim belum tentu dapat dipahami oleh lawan bicara. Di samping itu, kata-kata yang tak lazim akan terasa aneh kalau dipergunakan dalam situasi resmi. Kata haus lebih lazim daripada dahaga, dan kata rumah lebih lazim daripada teratak, misalnya. Tentu masih banyak lagi padanannya.

Syahdan, juga masalah yang tak pernah minggat, yaitu bagaimana dengan bahasa asing? Kalau kata-kata asing itu sudah ada terjemahannya, terjemahanlah yang dipergunakan. Dan pergunakanlah kata-kata asing yang ucapan dan ejaannya telah di-Indonesia-kan daripada kata-kata asing yang masih dieja dan diucapkan seperti dalam bahasa aslinya.

Kembali pada suatu ketika, kali ini berandai seorang diri tentang masalah kelaziman-kelaziman yang sarat akan konteks dan segala tetek bengek lainnya. Begini, mungkin akan terasa lebih arif dan menjadikannya suatu kelaziman andai mempergunakan bahasa Indonesia dari serapan bahasa-bahasa daerah.

Bukankah justru memperkaya khazanah keseharian dalam percakapan? Bukankah kita juga memang harus melestarikan bahasa daerah selain mempertahankan bahasa Indonesia, tentunya? Sebab kita bangsa Indonesia, bebas memilih kata dari keberagaman bahasa Indonesia. Beragam bahasa menjadi satu bahasa, bahasa Indonesia. Yang secara langsung atau tak itu turut andil memperkaya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di kemudian hari. Amin.

Sumber: Lampung Post, 21 Oktober 2009